Sabtu, 23 Maret 2013

Entah, ini pertengkaran apa bukan.


Terkesan singkat sekali pertemuan kemarin, tiga hari bukankah waktu yang lama? Entah kenapa pertemuan itu terasa seperi roket yang melesat begitu saja, sangat cepat. Selama tiga hari, mulai dari pagi aku menjemputnya hingga malam aku mengantarkannya pulang, seharian kami bersama, bergurau saat aku jalan dengannya, mengelilingi kota dengan senyuman-senyuman yang meledak dari letupan rindu, dan saling bergenggaman hanya untuk meyakinkan kalau pertemuan itu akan ada lagi. Tapi entah kenapa harus ada perpisahan? Aku benci perpisahan, seakan ia malaikat pencabut ‘rasa kebahagiaan’ kami berdua. Entahlah, hatiku kacau tak bisa membedakan antara adil dan tak adil bagi kami yang dipisahkan dengan jarak, mereka yang di sekitarku begitu mudah menemui kekasihnya yang membuat dunia tak adil, menghakimiku. Tapi, rasa adil itu ada ketika pertemuan itu hadir kembali dalam hubungan kami. Karena mereka yang bertemu setiap hari dengan kekasihnya belum tentu merasakan rindu yang sedang kita alami saat ini, tapi perpisahan membuat rasa itu tetap sama saja, tak adil.

Aku tetap merasa aneh pada fikiranku yang selalu berkecamuk pada rindu. Seakan dunia terhenti tanpa kehadirannya, tanpa melihat senyumnya di pagi hari. Aku sadar, jarak yang hadir bukanlah kutukan bagi hubungan kami berdua, tapi Tuhan seakan memperlakukan hubungan kita menjadi semakin rumit mungkin aku melihat dari sisi ‘ketidak bersyukurnya’ aku, namun ketika aku renungkan kembali, aku melihat banyak malaikat membantuku di sini, malaikat yang melahirkan bayangan-bayangan keyakinan dari rindu yang ku panjatkan dalam do’a.

***

Sudah enam bulan lebih pertemuan itu berlalu, terasa lama sekali apabila kita terlalu merasakan ‘kerinduan’, namun akan terasa cepat jika kerinduan itu kita alihkan dengan beberapa kesibukkan-kesibukkan yang positif. Di sisi yang berbeda entah yang dia rasakan sangatlah berbeda dia tak sepertiku yang sibuk bekerja seharian hingga malam justru aku lebih banyak mengambil lembur. Sedangkan kegiatannya hanya kuliah dan tugas, hingga intensitas kerindunya mungkin lebih banyak di dia. Selama sebulan ini entah yang  keberapa kalinya aku berantem dengannya, dia mudah mengeluhkan aku yang sibuk, dia mudah terbawa emosi saat aku telat memberi kabar atau sedikit perhatian yang dia butuhkan seperti apa yang kulakukan dulu, dia terlalu mudah terpancing dengan kerinduannya, alhasil akulah korban keganasan kerinduannya. Mungkin  jika aku tak bersabar menghadapinya tak akan ada cerita ini.

Tiba-tiba aku jadi ingat percakapan kemarin, saat aku telat mengabarinya, langsung saja dia mengirimkan sms kepadaku, mungkin dengan nada sindiran bahkan keluhannya. Percakapan yang panjang, menurutku sih, ini membosankan. Terlalu sinetron, tapi entah kenapa kita sering melakukannya.


            “Aku gapapa kok ditinggalin terus. Terusin aja, lama-lama nanti kebal sendiri dan gak akan rewel lagi kok. Serius”  keluhnya, dengan sms yang ia kirim padaku.
            “Iya, sih gpp ditinggal. tapi tetep aja suka ngeluh ini-itu di jejaring sosial, seakan semua org harus denger kekurangan kita”. Aku membalas dengan tegas. 
            “Lagian kamu juga pengennya aku gak banyak protes dan gak banyak rewel kan?”
            “Kamu emang gak rewel, tapi di belakang, kamu tetep suka ngomongin kita, jejaring sosial itu korban kerewelan kamu. sadar?”
            “Jejaring sosial kan gak ada kamunya, lagian kamu juga deketan sama banyak cewe kan di sana? Satu sama lah”
            "Loh, 'deket sama banyak cewek' itu maksudnya apa? Bisa dong kamu jelasin, aku di sini gak ada deket sama siapa-siapa kok”
            “Nethink kamu udah over dosis tuh”
            “Cuek kamu juga overdosis”
            “Hmmm. Aku cuek? pasti masalahnya dari sini lagi, kamu gak bosan masalahin ini terus, aku sih, iya”
            “Aku sih udah kebal juga sama cueknya kamu. Jadi gak dibahas juga gak masalah. Toh kalau mau ngeluh kamu sibuk juga kamu males kan? ”
            “Ya, aku juga udah kebal sama sifat 'ngeluhnya kamu' toh kita juga bakal ketemu dan mesra-mesraan lagi kan”
            “Seyakin apa bisa nemuin secepetnya? Hobi PHP, sih, iya kamu tuh, sayang”
            “Lho, aku gak pernah ngejanjiin bisa ketemuan. yang aku janjiin; "kita bakal ketemuan kok, kamu yg sabar yaa" itu kataku”
            “Nah 'bakal' nya itu, mending gausah gitu kan jadi gak ngarep akunya. Peka sama aku yang udah lama kamu kenal masih susah ya? ”
            “Dan kamu ngerti sama kesibukkan aku juga masih susah kan? ujun-ujungnya pasti kayak gini, bakal nyalahin satu sama lain”
            “Enggak nyalahin, cuma udah gabisa ngerasain apa-apanya sendirian. Beda loh”
            “Aku gak ngerti sama bahasa 'sok dewasa' kamu dan aplikasi yang kamu lakuin dengan gaya 'kekanak-kanakan kamu' sekarang”
            “Aku juga gangerti sama yang katanya 'perhatian' tapi aplikasinya 'cuek' nya kamu itu, gak cuma skrg malah. Tuh, yg ngajak berantem siapa? ”
Gak baik sih, kalau debat panjang terus cuma mentingin 'siapa yg harus menang & ngalah', kita tuh gimana sih? menurut kamu? ”
            “Kita itu ya aku dan kamu. Memang dua dalam satu sih, perdebatan ini memang proses. Toh, dari awal aku selalu menerima kamu apa adanya”
            “Kalau aku masih banyak ngeluh, bawel, dan rewel. Aku juga butuh diimbangin kan artinya? Aku juga gapernah minta semua waktu kamu untuk aku. Kamu tahu aku gimana, mungkin keadaan udah jauh berbeda dari siapa kita yang dulu waktu kamu gak sesibuk ini. Tapi aku masih butuh kamu”
            “Tentunya, aku juga punya sedikit waktu dari kesibukkanku yang begitu banyak menyita waktu dan perhatianmu teralihkan”
            “Aku juga gak berharap banget kamu bisa bersikap sedewasa mungkin, aku cuma berharap kamu gak terlalu banyak nuntut”
            “Sifat rewel itu yg bikin aku ngerasa semakin bersalah & frustasi, gak tau mana yang mesti diselesaikan. makanya aku cuek”
            “Kamu sibuk bukan berarti aku gak butuh kamu kan? Iya kan? Aku juga rewel, dan minta seseorang ada di sisi aku itu cuma sama kamu”
            “Sekeras kepala apapun kita, kita tetap saling membutuh kan, kamu butuh perhatianku dan aku juga butuh semangat kamu.”
            “Tolong jangan terlalu berorientasi bahwa dengan kau cuek, aku akan baik-baik saja. Aku hanya minta itu”
            “Oke, dengan senang hati, perdebatan malam ini. aku yang sangat bersalah, membiarkanmu begitu saja dari kemarin-kemarin, bisakah kau membuat keadaan kita menjadi baik-baik saja, tanpa mengutamakan sifat 'egois' di antara kita”
            “Ya, aku tahu aku juga belum jadi yang terbaik. Tapi aku tahu aku berusaha menyesuaikan diri”
            “Baguslah kalau begitu, aku juga sedang menyesuaikan diri bagaimana membagi waktu yang tak banyak ini agar sebisa mungkin aku ada saat kau butuh, meskipun jauh”
            “Jangan mengucapkan apa yang membuatkau berfikir ulang bahwa kau tak sungguh-sungguh. Sudah sudah, aku sedang tak ingin bertengkar lagi”

Terkadang, jika wanita sedang merindukan kekasihnya, rasa pengertian yang dia miliki sedikit mengurang bahkan tidak ada, karena yang ia rasakan bukanlah ingin mengerti yang sibuk, melainkan ingin dimengerti. Di sanalah tugas pria, harus sesabar mungkin mengontrol emosi yang dimiliki, kunci dari menahan keegoisan itu bukan melawan, melainkan meredamkan salah satunya. Atau mengalah ‘merasa bersalah’ jauh lebih baik, demi menyalamatkan hubungan.

Terlalu banyak mengeluh itu tak akan membuat hubungan semakin baik-baik saja, namun kita manusia tak jauh dari hal tadi, untuk tidak mengeluh. Kita harus memulai mendewasakan diri agar menjadikan keadaan semakin baik-baik saja, bersyukur, tidak terlalu melihat sana-sini atau iri dengan mereka yang begitu mudah melihat kekasihnya. Bersyukur dengan keadaan yang ada, adalah tembok dari pertengkaran yang ada. 


Notes: Dikomentarin ya... titik dua bintang. 
                                                                               

34 komentar:

  1. min... ini postingan mimin, mewakili kata hati aku deh :") tapi insyaallah aku gx jadi cew yg suka ngeluh kok :") tthanks mimin...

    BalasHapus
  2. Yaahhhh galau lgi dah gara2 mimin :'(

    sayang, perhatiin aq donk, ntr klo ada yg perhatiin aq lebih trus aq kecantol gimana tuh :')

    @utii_wanuti

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah pacarku nggak cuek2 amat walopun ldr .. Walopun setaun bs ketemu dlm hitungan jari ..

    BalasHapus
  4. Percakapannya bikin sedih ya :') pas banget sama situasi gue sekarang min. Cewek emang gitu, suka sok kuat sok dewasa. Tapi dibalik "aku gak kenapa-kenapa kok" itu, sebenernya dia pengen diperhatiin, dibaikin, dimanjain hehehe kena banget min!

    BalasHapus
  5. persis banget sama kisah ku 'dulu'. Jadi keinget :')
    bagus min..

    BalasHapus
  6. sering euy berantem kyk gtu... hihihihi
    :malus

    BalasHapus
  7. sebenernya gamau nyalahin dia atau terlebih lagi nyalahin diri sendiri dalam setiap pertengkaran yang ada. dalam setiap amarah, keluhan, kerewelan dan segala bentuk ocehanku itu hanyalah bentuk dari sebuah luapan rindu, kecemburuan dan rasa takut akanmu saja. tidak bermaksud untuk membuatmu merasa terkekang apalagi merasa dituntut. ah aku merindukanmu.... merindukan kegilaan bersama...
    aku hanya minta kau untuk "setia" dan fokus pada kuliahmu yang sudah akhir itu.
    kita sudah tua, seharusnya kita sudah dewasa. tapi tak semua yang sudah tua itu bisa dikatakan dewasa. menghadapi segala masalah dengan pemikiran yang lebih tenang dan berfikir dewasa itu lebih baik.
    segera jemput aku disini. jangan biarkan Allah menjemputku mendahului kamu :)
    cc: akhmad rijal qusyairi (yang selalu aku rindukan)

    BalasHapus
  8. okeh min gue 1 pikirian sama lo

    BalasHapus
  9. persis banget sama keadaanku yang sekarang min.. Dia nya yang sibuk banget, aku nya yang masih kekanak kanakan..

    BalasHapus
  10. Lagilagi dengan kasus yang sama, padahal pasangan yang minta untuk mengalihkan rindu ke hal hal yang positif. itu yg buat hubungan saya ( bogor ) dan DIDIT ( surabaya ) awet. kita selalu rewel kalau rindu. tidak pernah ad kata-kata agar mengalihkan rasa rindu. semoga jarak memberi bahagia yang lebih saat kembali bertemu.

    BalasHapus
  11. nyindir aku bangets dahh haha

    BalasHapus
  12. Asli ngenaaaa bgt :''''''(((

    BalasHapus
  13. Sering banget kayak gini min, tapi sekarang aku udh jd lebih dewasa, harus ngertiin kesibukannya dia, takutnya dia jg jenuh kalo kita ngeluh mulu

    BalasHapus
  14. lagi ngalamin nih :'(

    asLi deh kata2nya bikin gaLau ..

    BalasHapus
  15. gue ldr gak gitu2 amat, lumayan bisa ngontrol emosi lah kalo lagi rindu

    BalasHapus
  16. Iya knp yah min cwo tuh ga ngerti prasaan cewe'y, malah dy sibuk dgn kerjaannya :( *egois min

    BalasHapus
  17. Iyah min, aku rindu diperhatiin dia. :'(

    BalasHapus
  18. selama LDR blm pernah berantem gara2 rindu, sama2 saling pengertian aja.
    di tempat kerja dia sinyal susah nya minta ampun, di dalem rumah dia aja sinyal SOS n kalo mau nelpon harus cari sinyal dulu di halaman rumah itupun lagi nelpon masih sering keputus-putus.
    sehari komunikasi cuma sekali, ga pernah sms'an, tiap malem doang abis kerja dia telpon aku 1 - 1,5 jam n maksimal nelpon nya bisa 3x kalo hari minggu, hahaha
    bersyukur aja, dgn bersyukur dan sabar semua akan terasa indah n ga berat untuk dijalani:)

    BalasHapus
  19. pernah hampir seperti itu ya :')

    BalasHapus
  20. Belom pernah ngerasain LDR serumit itu min :)
    tapi, itu bner" keren!

    BalasHapus
  21. semoga yang dialami skrg enggak serumit itu,

    BalasHapus
  22. Cuma bsa blg "kangen pacar"

    BalasHapus
  23. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  24. hadeh minta di komengin #siul

    mbaret² ini hati para pembaca #mewek

    BalasHapus
  25. duuuhhh min postingan nya sama persis apa yang sering aku rasain :'(
    miss him :'(

    BalasHapus
  26. Jarak yg memang tdk dekat itu bukan dijadikan halangan dan sesibuk apapun kita jgn jadikan pelarian tuk melepas rindu.. Rindu akan tetap ada sekalipun jarak pemisah itu tdk ada.. Dimanapun dan kapanpun, tetaplah satu tujuan dan pertahankan apa yg ada dan sudah lama tercipta..

    BalasHapus

Silahkan, berkomentar. Usahakan konteks penulisannya yang rapi, ya. Biar enak diliat. Oiya jangan lupa beli buku Long Distance Hearts 1 dan 2 di toko buku terdekat. :*