Luka itu bukan jarak, luka itu bukan perpisahan, dan luka itu bukan kita yang tak bisa menerima keadaan karena berjauhan. Aku mencintaimu. Tak percaya? Lihat nanti siapa yang akan memberikan senyuman dan seketika kau tak bisa berkata apa-apa, kejutan yang kau pun tak bisa menebak itu kapan, aku pun. Tentunya kejutan itu sangat membuat kita berarti, dalam hal menunggu. "Aku sudah di depan rumahmu, coba kamu keluar" kau tak merindukan ucapan itu hadir? Justru aku merindukan senyummu yang beraduk airmata bahagia, karena aku berhasil mengerjaimu dalam pertemuan kemarin, dan itu akan ku lakukan berkali-kali agar kau tetap menantiku. Sederhana bukan? Aku sangat mencintai kejutan, termasuk kamu. Jika kita bertemu dengan rencana, aku tak percaya beberapa jam sebelum bertemu pasti ada pertengkaran kecil.
Maaf jika aku sibuk dan tak sempat memberimu perhatian, aku tahu kau sangat butuh perhatianku agar kau tetap merasa ada meskipun kita berjauhan, aku bukan berpaling darimu, aku ingin kita saling memberi ruang agar kita sama-sama fokus dengan apa yang kita kejar dan kerjakan sekarang dan nanti. Rindumu terlalu berlebihan, sayang. Kadang aku menyadari betapa sangat berartinya aku ketika kau sibuk, kau sempat memberiku kabar, oke, aku akan mengakui kesalahanku, karena aku tak sepertimu. Namun, aku tetap memikirkanmu, meskipun aku sering telat mengabarimu.



