Aku masih berusaha untuk mempertahankan hubungan ini, walau pun itu hanya sepintas keinginan ku. Dan Raina jangan harap dia akan sependapat dengan ku. Pertemuan ini terasa berat, aku yang membuat janji dan seharusnya aku datang tepat waktu, kenyataannya aku yang telat datang, kami sudah berjanji untuk bertemu pukul lima sore, dan ketika aku datang di cafe ini, aku sudah melihat sosoknya yang melihat kanan-kiri seolah mencari yang ia tunggu, aku.
"Aduh, maaf telat tadi aku ngurusin kerjaan dulu, mendadak" Fikirku dia tidak akan marah dengan basa-basa ini, nyatanya dia hanya tersenyum kecut melihatku.
"Kayaknya kita langsung aja, aku juga buru-buru, dan baru aja buang waktu setengah jam, nunggu kamu"
"Aku mau kita jalani lagi, mungkin ini kesempatan yang ke berapa kamu kasih ke aku, tapi aku gak bisa sia-siain gitu aja"
"Justru yang nyia-nyiain kesempatan itu kamu, aku gak pernah punya niat untuk mengakhiri hubungan ini, tapi sikap kamu yang bikin aku nyerah, Ris. Aku rasa cukup, dan gak ada yang mesti dilanjutin lagi"
"Kamu yakin?" Tanyaku.
"Seharusnya yang bertanya seperti itu aku, kamu masih yakin mau jalani hubungan ini sama aku? Kamu seharusnya bahagia dengannya, bukan aku" Dia menarik tangannya dari genggamanku.
"Tapi aku nyaman denganmu"
"Kalau pun kita bisa jalani lagi aku juga engga bisa kasih kesempatan lagi, dan semuanya cukup. Cukup aku sia-sia nunggu kamu, dan rasa nyaman aja engga cukup kalau kamu masih sering bahagiain orang lain, selain aku"
"Aku yakin aku engga akan ngecewain kesempatan kamu kasih"
"Kamu masih engga ngerti, ya?"
"Tapi, kalau kamu mau kasih kesempatan buat kita"
"Gak usah, udah cukup" Dia beranjak dari kursinya dan meninggalkanku keluar dari cafe ini tanpa sekalipun menyentuh lemon tea yang ia pesan.
"Justru yang nyia-nyiain kesempatan itu kamu, aku gak pernah punya niat untuk mengakhiri hubungan ini, tapi sikap kamu yang bikin aku nyerah, Ris. Aku rasa cukup, dan gak ada yang mesti dilanjutin lagi"
"Kamu yakin?" Tanyaku.
"Seharusnya yang bertanya seperti itu aku, kamu masih yakin mau jalani hubungan ini sama aku? Kamu seharusnya bahagia dengannya, bukan aku" Dia menarik tangannya dari genggamanku.
"Tapi aku nyaman denganmu"
"Kalau pun kita bisa jalani lagi aku juga engga bisa kasih kesempatan lagi, dan semuanya cukup. Cukup aku sia-sia nunggu kamu, dan rasa nyaman aja engga cukup kalau kamu masih sering bahagiain orang lain, selain aku"
"Aku yakin aku engga akan ngecewain kesempatan kamu kasih"
"Kamu masih engga ngerti, ya?"
"Tapi, kalau kamu mau kasih kesempatan buat kita"
"Gak usah, udah cukup" Dia beranjak dari kursinya dan meninggalkanku keluar dari cafe ini tanpa sekalipun menyentuh lemon tea yang ia pesan.
***

